Status Anak di luar Nikah dalam Kompilasi Hukum Islam

herizal

Judul Artikel: Status Anak di luar Nikah dalam Kompilasi Hukum Islam
Oleh: HERIZAL, S. Ag (Penghulu Pada KUA Kecamatan Depati Tujuh)

A. Pengertian dan Dasar Hukum

Jika diteliti secara mendalam, Kompilasi Hukum Islam tidak menentukan secara khusus dan pasti tentang pengelompokan jenis anak, sebagaimana pengelompokan yang terdapat dalam Hukum Perdata Umum. Dalam Kompilasi Hukum Islam selain dijelaskan tentang kriteria anak sah ( anak yang dilahirkan dalam ikatan perkawinan yang sah), sebagaimana yang dicantumkan dalam Pasal 99 Kompilasi Hukum Islam, yang berbunyi bahwa anak yang sah adalah :

  1. Anak yang dilahirkan dalam atau akibat perkawinan yang sah.
  2. Hasil pembuahan suami isteri yang diluar rahim dan dilahirkan oleh isteri tersebut

Juga dikenal anak yang lahir diluar perkawinan yang sah, seperti yang tercantum dalam Pasal 100 Kompilasi Hukum Islam bahwa “ anak yang lahir diluar perkawinan hanya mempunyai hubungan nasab dengan ibunya dan keluarga ibunya ”.

Disamping itu dijelaskan juga tentang status anak dari perkawinan seorang laki-laki dengan perempuan yang dihamilinya sebelum pernikahan. Sebagaimana yang tercantum pada Pasal 53 ayat (3) Kompilasi Hukum Islam :

Dengan dilangsungkannya perkawinan pada saat wanita hamil, tidak diperlukan perkawinan setelah anak yang dikandung lahir

Begitu juga dalam Pasal 75 huruf (b) Kompilasi Hukum Islam dijelaskan tentang status anak dari perkawinan yang dibatalkan, yang berbunyi “keputusan pembatalan perkawinan tidak berlaku surut terhadap anak-anak yang dilahirkan dari perkawinan tersebut”

Sedangkan dalam Pasal 162 Kompilasi Hukum Islam dijelaskan tentang satus anak Li’an (sebagai akibat pengingkaran suami terhadap janin dan/atau anak yang dilahikan isterinya). Dengan demikian, jelas bahwa Kompilasi Hukum Islam tidak mengelompokkan pembagian anak secara sistematis yang disusun dalam satu bab tertentu, sebagaimana pengklasifikasian yang tercantum dalam UU Nomor 1 Tahun 1974. Dalam Pasal 42 Bab IX UU Nomor 1 Tahun 1974 tersebut dijelaskan bahwa anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dan atau sebagai akibat perkawinan yang sah . Yang termasuk dalam kategori Pasal ini adalah :

  1. Anak yang dilahirkan oleh wanita akibat suatu perkawinan yang sah.
  2. Anak yang dilahirkan oleh wanita didalam ikatan perkawinan dengan tenggang waktu minimal 6 (enam) bulan antara peristiwa pernikahan dengan melahirkan bayi.
  3. Anak yang dilahirkan oleh wanita didalam ikatan perkawinan yang waktunya kurang dari kebiasaan kehamilan tetapi tidak di ingkari kelahirannya oleh suami.

Karena itu untuk mendekatkan pengertian  “anak diluar nikah” akan diuraikan pendekatan berdasarkan terminology yang tertera didalam kitab fiqh, yang dipadukan dengan ketentuan yang mengatur tentang status anak yang tertera dalam Pasal- Pasal UU Nomor 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam.

Hasanayn Muhammad Makluf membuat terminology anak zina sebagai anak yang dilahirkan sebagai akibat hubungan suami isteri yang tidak sah.

Hubungan suami isteri yang tidak sah sebagaimana dimaksud adalah hubungan badan (senggama/wathi’) antara dua orang yang tidak terikat tali pernikahan yang memenuhi unsur rukun dan syarat nikah yang telah ditentukan.

Selain itu, hubungan suami isteri yang tidak sah tersebut dapat terjadi atas dasar suka sama suka ataupun karena perkosaan, baik yang dilakukan oleh orang yang sudah menikah ataupun belum menikah. Meskipun istilah “anak zina” merupakan istilah yang populer dan melekat dalam kehidupan masyarakat, namun Kompilasi Hukum Islam tidak mengadopsi istilah tersebut untuk dijadikan sebagai istilah khusus didalamnya.

Hal tersebut bertujuan agar “anak” sebagai hasil hubungan zina, tidak dijadikan sasaran hukuman sosial, celaan masyarakat dan lain sebagainya, dengan menyandangkan dosa besar (berzina) ibu kandungnya dan ayah alami (genetik) anak tersebut kepada dirinya, sekaligus untuk menunjukan identitas islam tidak mengenal adanya dosa warisan. Untuk lebih mendekatkan makna yang demikian , Pasal 44 ayat (1) UU Nomor 1 Tahun 1974 hanya bilamana ia dapat membuktikan bahwa isterinya telah berzina dan kelahiran anak itu akibat dari perbuatan zina tersebut.

Dalam Kompilasi Hukum Islam kalimat yang mempunyai makna “anak zina” sebagaimana defenisi yang dikemukakan oleh Hasanayn diatas, adalah “anak yang dilahirkan di luar perkawinan yang sah” sebagaimana yang terdapat pada Pasal 100 Kompilasi Hukum Islam, yang menyebutkan bahwa “anak yang lahir di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan nasab dengan ibunya dan keluarga ibunya”

Semakna dengan ketentuan tersebut, Pasal 186 Kompilasi Hukum Islam menyatakan :

“anak yang lahir di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan saling mewarisi dengan ibunya dan keluarga dari pihak ibunya”

Berdasarkan defenisi dan pendekatan makna “anak zina” di atas, maka yang dimaksudkan dengan “anak zina” dalam pembahasan ini adalah anak yang janin/pembuahannya merupakan akibat dari perbuatan zina, ataupun anak yang dilahirkan diluar perkawinan, sebagai akibat dari perbuatan zina.

Pendekatan istilah “anak zina” sebagai “anak yang lahir di luar perkawinan yang sah”berbeda dengan pengertian anak zina yang dikenal dalam Hukum Perdata umum, sebab dalam perdata umum, istilah anak zina adalah anak yang dilahirkan dari hubungan dua orang, laki-laki dan perempuan yang bukan suami isteri, dimana salah seorang atau keduanya terikat tali perkawinan dengan orang lain. Karena itu anak diluar nikah yang dimaksud dalam hukum perdata umum adalah anak yang dibenihkan dan dilahirkan diluar perkawinan dan istilah lain yang tidak diartikan sebagai anak zina.

Perbedaan anak zina dengan anak luar kawin menurut Hukum Perdata adalah :

  1. Apabila orang tua anak tersebut salah satu atau keduanya masih terikat dengan perkawinan lain, kemudian mereka melakukan hubungan seksual dan melahirkan anak, maka anak tersebut adalah anak zina.
  2. Apabila orang tua anak tersebut tidak terikat perkawinan lain (jejaka,perawan,duda,janda) mereka melakukan hubungan seksual dan melahirkan anak, maka anak tersebut adalah anak luar kawin.

Dengan demikian sejalan dengan Pasal 43 ayat (1) UU Nomor 1 Tahun 1974 yang rumusannya sama dengan Pasal 100 KHI, adalah : “anak yang lahir di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan nasab dengan ibunya dan keluarga ibunya”

Yang termasuk anak yang lahir di luar perkawinan adalah :

  1. Anak yang dilahirkan oleh wanita yang tidak mempunyai ikatan perkawinan yang sah dengan pria yang menghamilinya.
  2. Anak yang dilahirkan oleh wanita yang kehamilannya akibat korban perkosaan oleh satu orang pria atau lebih.
  3. Anak yang dilahirkan oleh wanita yang di li’an (diingkari) oleh suaminya.
  4. Anak yang dilahirkan oleh wanita yang kehamilannya akibat salah orang (salah sangka) disangka suaminya ternyata bukan.
  5. Anak yang dilahirkan oleh wanita yang kehamilannya akibat pernikahan yang diharamkan seperti menikah dengan saudara kandung atau sepersusuan.

Angka 4 dan 5 diatas dalam hukum Islam disebut anak Subhat yang apabila diakui oleh bapak subhatnya, nasabnya dapat dihubungkan kepadanya.

 

B. Akibat Hukum

Jika seorang anak telah dihukumkan sebagai anak yang lahir di luar perkawinan sebagaimana disebutkan diatas, maka terdapat beberapa akibat hukum menyangkut hak dan kewajiban antara anak, ibu yang melahirkannya dan ayah/bapak alaminya (genetiknya), yaitu :

  • Hubungan Nasab

Pasal 100 Kompilasi Hukum Islam sebagaimana yang telah dikemukakan, dinyatakan bahwa anak yang lahir diluar perkawinan hanya mempunyai hubungan nasab dengan ibunya dan keluarga ibunya saja.

Hal demikian secara hukum anak tersebut saama sekali tidak dapat dinisbahkan kepada ayah/bapak alaminya, meskipun secara nyata ayah/bapak alami (genetik) tersebut merupakan laki-laki yang menghamili wanita yang melahirkannya itu.

Meskipun secara sekilas terlihat tidak manusiawi dan tidak berimbang antara beban yang diletakkan di pundak pihak ibu saja, tanpa menghubungkannya dengan laki-laki yang menjadi ayah genetik anak tersebut, namun ketentuan demikian dinilai menjunjung tinggi keluhuran lembaga perkawinan, sekaligus menghindari pencenaran terhadap lembaga perkawinan.

  • Nafkah

Oleh karena status anak tersebut menurut hukum hanya mempunyai hubungan nasab dengan ibunya dan keluarga ibunya semata, maka yang wajib memberikan nafkah anak tersebut adalah ibunya dan keluarga ibunya saja.

Sedangkan bagi ayah/bapak alami (genetik), meskipun anak tersebut secara biologis merupakan anak yang berasal dari spermanya, namun secara yuridis formal sebagaimana maksud Pasal 100 Kompilasi Hukum Islam diatas, tidak mempunyai kewajiban  hukum memberikan nafkah kepada anak tersebut.

Hal tersebut berbeda dengan anak sah. Terhadap anak sah, ayah wajib memberikan nafkah dan penghidupan yang layak seperti nafkah kesehatan, pendidikan dan lain sebagainya kepada anak-anaknya, sesuai dengan penghasilannya, sebagaimana ketentuan Pasal 80 ayat (4) Kompilasi Hukum Islam, dalam hal ayah dan ibunya masih terikat tali perkawinan.

Apabila ayah dan ibu anak tersebut telah bercerai, maka ayah tetap dibebankan memberi nafkah kepada anak-anaknya sesuai dengan kemampuannya, sebagaimana maksud Pasal 105 huruf (c) dan Pasal 156 huruf (d) Kompilasi Hukum Islam.

Meskipun dalam kehidupan masyarakat ada juga ayah alami/genetik yang memberikan nafkah kepada anak yang demikian,maka hal tersebut pada dasarnya hanyalah bersifat manusiawi, bukan kewajiban yang dibebankan hukum sebagaimana kewajiban ayah terhadap anak sah. Oleh karena itu secara hukum anak tersebut tidak berhak menuntut nafkah dari ayah/bapak alami (genetiknya).

 

  • Hak – Hak Waris

Sebagai akibat lanjut dari hubungan nasab seperti yang dikemukakan, maka anak tersebut hanya mempunyai hubungan waris-mewarisi dengan ibunya dan keluarga ibunya saja, sebagaimana yang ditegaskan pada Pasal 186 Kompilasi Hukum Islam : “ anak yang lahir diluar perkawinan hanya mempunyai hubungan saling mewarisi dengan ibunya dan keluarganya dari pihak ibunya”. Dengan demikian, maka anak tersebut secara hukum tidak mempunyai hubungan hukum saling mewarisi dengan ayah/bapak alami (genetiknya).

  • Hak Perwalian

Apabila dalam satu kasus bahwa anak yang lahir akibat darti perbuatan zina (diluar perkawinan)tersebut ternyata wanita, dan setelah dewasa anak tersebut akan menikah, maka ayah/bapak alami (genetiknya) tidak berhak atau tidak sah menjadi wali niksahnya, sebagaimana ketentuan wali nikah dalam Pasal 19 Kompilasi Hukum Islam :

  • Wali nikah dalam perkawinan merupakan rukun yang harus dipenuhi bagi calon mempelai wanita yang bertindak untuk menikahkannya.
  • Yang bertindak sebagai wali nikah ialah seorang laki-laki yang memenuhi syarat hukum Islam yakni Muslim, aqil dan baligh.
  • Ketentuan hukum yang sama sebagaimana ketentuan hukum terhadap anak luar nikah tersebut, sama halnya dengan status hukum semua anak yang lahir diluar pernikahan yang sah sebagaimana disebutkan diatas.

 

C.   Kesimpulan

  1. Kompilasi Hukum Islam tidak mengenal istilah “anak zina” tetapi mengenal istilah “anak yang lahir diluar perkawinan” yang statusnya sama dengan anak hasil hubungan suami isteri antara laki-laki dan perempuan yang tidak terikat tali perkawinan yang sah, yang meliputi anak yang lahir dari wanita yang tidak mempunyai ikatan perkawinan yang sah dengan pria yang menghamilinya, atau anak syubhat kecuali diakui oleh bapak syubhatnya.
  2. Anak yang lahir diluar perkawinan atau sebagai akibat hubungan suami isteri yang tidak sah, hanya mempunyai hubungan nasab, hak dan kewajiban nafkah serta hak dan hubungan kewarisan dengan ibunya serta keluarga ibunya saja, tidak dengan ayah/bapak alami (genetiknya) begitu juga ayah/bapak alami (genetiknya), jika anak tersebut kebetulan anak perempuan.
  3. Jika anak yang lahir diluar perkawinan tersebut berjenis kelamin perempuan dan hendak melangsungkan pernikahan maka wali nikah yang bersangkutan adalah Wali Hakim, karena termasuk kelompok yang tidak mempunyai wali nasab.

 

Daftar Bacaan

  • Andi Syamsu Alam, Usia Ideal Memasuki Dunia Perkawinan, Sebuah Ikhtiar Mewujudkan Keluarga Sakinah (Jakarta : Kencana Mas, 2005)
  • Asy’ari Abd. Ghofar, Pandangan Islam Tentang Zina dan Perkawinan Sesudah Hamil (Jakarta: Andes Utama, 1987)
  • Bustanul Arifin, Pelembagaan Hukum Islam Di Indonesia, Akar Sejarah, Harapan dan Prospeknya ( Jakarta : Gema Insani Pers, 1966)
  • Hasanayn Muhammad Makluf, Al – Mawarits fi Al- Syari’at al- Islamiyya, Matba’ al- Madaniy, ( t. tp: 1996)
  • H. Abdul Manan, Prof. DR. SH. SIP. M. Hum., Aneka Masalah Hukum Perdata Islam di Indonesia, Cet Ke-2 (Jakarta : Kencana Mas : 2008)
  • Hasan Al Faraidh ( Surabaya, Pustaka Progresif, 1979)
  • J. Satrio, Hukum Waris ( Bandung : Citra Aditya Bhakti, 1990)
  • M. Al Hasan, Masail Fiqhiyyah Al Haditsah Pada Masalah – Masalah Kontemporer Hukum Islam ( Jakarta, Raja Grafindo Persada, 1996)
  •  Sayyid Tsabiq, Fiqh Al Sunnah, Jilid II ( Beirut : Dar Al Fiqri: 1980)
  • Wirjono Prodjodikoro, Hukum Waris di Indonesia ( Bandung ; Sumur, 1976)

BIODATA PENULIS
image001NAMA LENGKAP : HERIZAL, S. Ag
N I P : 19790322 200501 1 005
TEMPAT/TGL. LAHIR : LUBUK SULI / 22 MARET 1979
PEKERJAAN/JABATAN : PNS /PENGHULU MUDA, KUAKEC.DEPATI VII KANTOR KEMENTERIAN AGAMA KAB.KERINCI PROVINSI JAMBI
PANGKAT/GOLONGAN : PENATA TK. I ( III/d )
AGAMA : ISLAM
PENDDIDIKAN : – SDN 158 / III LUBUK SULI TAHUN 1991
– MTsN SUNGAI PENUH TAHUN 1994
– MAN 2 SUNGAI PENUH TAHUN 1997
– S1 STAIN KERINCI TAHUN 2001
ALAMAT : DESA KOTO LANANG KECAMATAN DEPATI VII, KABUPATEN KERINCI PROVINSI JAMBI
HP : 081366292279

You can leave a response, or trackback from your own site.

63 Responses to “Status Anak di luar Nikah dalam Kompilasi Hukum Islam”

  1. Dony Kusuma says:

    Mengenai kawin hamil dijelaskan dalam Pasal 53 Kompilasi Hukum Islam (“KHI”), yaitu seorang wanita hamil di luar nikah, dapat dikawinkan dengan pria yang menghamilinya. Perkawinan dengan wanita hamil tersebut dapat dilangsungkan tanpa menunggu lebih dahulu kelahiran anaknya. Dengan dilangsungkannya perkawinan pada saat wanita hamil, tidak diperlukan perkawinan ulang setelah anak yang dikandung lahir.

    Pertanyaan saya bagaimana nanti ketika anak tersebut akan menkah. Siapa yang wajib menikahkan seandainya anak tersebut perempuan dan jika laki-laki juga bagaimana ? mohon penjelasannya lengkap juga mengenai Pasal 53 KHI tersebut.

  2. Herizal Harmen says:

    Pasal 53 Ayat 1 s/d 3 KHI cukup jelas.
    Anak yang lahir diluar perkawinan atau sebagai akibat hubungan suami isteri yang tidak sah, hanya mempunyai hubungan nasab, hak dan kewajiban nafkah serta hak dan hubungan kewarisan dengan ibunya serta keluarga ibunya saja, tidak dengan ayah/bapak alami (genetiknya) begitu juga ayah/bapak alami (genetiknya.
    Jika anak yang lahir diluar perkawinan tersebut berjenis kelamin perempuan dan hendak melangsungkan pernikahan maka wali nikah yang bersangkutan adalah Wali Hakim, karena anak tersebut termasuk kelompok yang tidak mempunyai wali nasab.

  3. Herizal Harmen says:

    Wali hakim ialah wali nikah yang ditunjuk oleh Menteri Agama atau pejabat yang ditunjuk olehnya, yang diberi hak dan kewenangan untuk bertindak sebagai wali nikah. seperti : Ka. KUA Kec dimana anak perempuan tsb berdomisili.

  4. budiono says:

    makasih infonya pak

  5. Herizal Harmen says:

    sama-sama pak…

  6. yan2 says:

    apakah benar pak jika usia kandungan belum 3bulan lalu di nikahi oleh pacar yang menghamilinya.anak tersebut sah sepetri anak bukan hsil zina,mohon penjelasanya

    • Herizal Harmen says:

      Saudara Yan2 :
      Menurut jumhur ulama,jika anak di lahirkan kurang dari enam bulan setelah akad nikah maka tidak bisa dinasabkan kepada ayah yang menikahi ibunya, juga tidak menjadi mahram dan dengan demikian dia bisa dinikahi ayah tersebut.
      Mereka berpedoman pada pendapat Ali bin Abi Thalib ketika menghentikan rencana khalifah Usman bin Affan menghukum rajam terhadap seorang perempuan atas tuduhan zina yang diadukan suaminya karena sang isteri melahirkan bayi pada 6 bulan (kurang 9 bulan) dari waktu akad nikah. Maka Ali menjelaskan kepada Usman bahwa al-Qur`an menyebutkan masa mengandung dan menyusui bayi adalah 30 bulan seperti yang tertera di dalam surat Al- Ahqaaf ayat 15, lalu dikaitkan dengan surat al-Baqarah ayat 233 bahwa masa menyusui adalah 2 tahun, ini artinya masa mengandung paling pendek 6 bulan dan masa menyusui paling panjang 2 tahun. ( Tafsir Al-Alusi, Surat al Ahqaaf ayat 15)

  7. ardy says:

    Bila menikahi anak di luar nikah..
    Saat kita ijab qobul kan menyebutkan nama ayahnya di belakang nama anaknya tadi.. misal ” siti binti …” nah..setelah binti itu harus nama siapa pak? mohon pencerahannya..

    • Herizal Harmen says:

      Saudar Ardy yth :
      berdasarkan hadis dari Sa’id, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

      من ادعى إلى غير أبيه وهو يعلم أنه غير أبيه فالجنة عليه حرام

      “Siapa yang mengaku anak seseorang, sementara dia tahu bahwa itu bukan bapaknya maka surga haram untuknya.” (HR. Bukhari no. 6385)

      Karena bapak biologis bukan bapaknya maka haram hukumnya anak itu di-bin-kan ke bapaknya.
      Mengingat anak ini tidak punya bapak yang ‘legal’, maka dia di-bin-kan ke ibunya. Sebagaimana Nabi Isa ‘alaihis salam, yang dengan kuasa Allah, dia diciptakan tanpa ayah. Karena beliau tidak memiliki bapak, maka beliau di-bin-kan kepada ibunya, sebagaimana dalam banyak ayat, Allah menyebut beliau dengan Isa Ibn Maryam.
      semoga bermanfaat

  8. mela says:

    Assalamualaikum..mau nanya ini kasus sangat rumit.saya akan melangsungkan pernikahan desmbr mendatang.jd gni pak.dlu ibu sy sm suaminya menikah dn d karunia ank laki2 dn itu kakak sy.tp Hub ibu sy tk harmonis sm suaminya dn akhirnya pisah tnpa ad perceraian.tp pd saat pidah tsb ibu sy memiliki hub dng laki2 lain dn hamil melahirkn ank perempuan dn itu sy.krn saat sy lahir ibu sy msh ad ikatan perkawjnan sm suaminya maka scara hukum bpk sy adalh suami ibu sy.tp akhirnya meninggal.dn ayah biologis sy pun jg sdh mninggal.yg ingin sy tanyakan apkah kakak sy bs jd wali?sementara scara catatan sipil kakak sy adalah kakak kandung.tpbpd kenyataanya bukan.trmksh

  9. Herizal Harmen says:

    Saudari Mela,,,
    Kakak anda tersebut tidak berhak menjadi Wali nikah karena dia bukan se ayah se ibu dgn sdri Mela, tetapi hanya seibu saja.dan ketentuan wali harus dari garis keturunan ayah bukan keturunan ibu..
    demikian juga dgn bpk biologis sdri Mela juga tidak berhak mnjadi Wali nikah utk Mela, karena ia menikah dgn ibu mela disaat ibu mela msih berstatus isteri dari suami yg pertama (ayah dari kakak mela).yang berhak menjadi wali dari Mela adalah Wali Hakim ( Ka.KUA Kec. Setempat ). salam

  10. mela says:

    Lalu bagaimana dng catatan sipil sy pak?krna akta saya sm kakak sy itu seayah..apakah nantinya dr kua harus d rubah atau bagaimana?trimakasih bnyak ats penjelasanya.salam

  11. Risa Romadhania CC says:

    Assalamualikum wr,wb…
    Mohon maaf sebelumnya..Saya Seorang wanita yang dulu karena pergaulan saya pernah berzina dengan pacar saya yang sekarang menjadi pendamping saya, saya menikah dengan nya setelah saya mengandung 3bln dan sekarang saya memiliki anak perempuan berumur 2 tahun,,
    yang saya ingin tanyakan bagaimana nasib anak saya nanti saat akan menikah apa saat ijab kabul dia tidak bisa memakai nama ayahny dibelakang “binti” namanya dan bagaimana dengan menafkahkan siapa yang wajib menafkahkannya jika memang saya yg wajib menafkahkan apa hukuman untuk saya menurut islam jika saya tidak bisa menafkahkannya saya sebagai ibuny tidak memiliki penghasilan,
    tolong beri saya penjelasan dan saran agar saya bisa menjelaskan kpd anak saya nanti jika memang saat dia menikah tdk bisa diwalikan oleh ayahny,,terima kasih sebelumnya
    wassalamualaikum,wr,wb

  12. Herizal Harmen says:

    mela@ kalau di cttan sipil dan administrasi lainnya tdk masalah, yg penting lafadz yg diucapkan pd ijab qabul saudari Mela Bnti kepada Ibu bukan pd bapak. salam

  13. Herizal Harmen says:

    Saudari Risa@ Dengan peristiwa yg sdriku ceritakan sdri wajib bertaubat dan mnyesali prbuatan tsb. kmudian jika anak tsb mau mnikah yg berhak mnjadi walinya adalah wali hakim (Ka.Kua Kec. setempat)dan anak tersebut dinasabkan pd Ibunya dgn kata lain ber “Binti” kpd sdri Risa. klsu anknya brnama Ani maka ” ANI BINTI RISA” sebgai mana nabi Isa binti Maryam.
    msalah nafkah, wlaupun secara yuridis (Hukum) bpak biologisnya tdk berkewajiban mmberikan nafkah namun dari sisi sosial dia berhak mndapatkan nafkah (belanja)dari ayah biologisnya, anak dari Isterinya. salam

    • Novi says:

      Pak Herizal,

      Kasus sdri Risa diatas sama persis dng yg saya alami. Cuma bedanya saya lah anak hasil zina orgtua saya.
      org tua saya menikah pada saat ibu saya tengah mengandung saya 3 bulan akibat perbuatan zina tsb.

      Dan insyaAllah saya pny rencana menikah d tahun ini.
      Pertanyaan saya, jika wali nikah saya haruslah wali hakim (KA. KUA kec setempat), apakah perwalian tsb bisa di pindahkan/diwalikan lg ke org lain (misalnya tokoh agama setempat)dng seijin wali hakim tsb?

      Mohon informasinya, terima kasih.

  14. mohon ijin mengcopy dan menyebarkan artikel.

    amir prambudi asy-syamarani

  15. wira says:

    assalamualaikum wr.wb

    maaf uztad saya masih bingung dengan penjelasannya, apabila seorang laki2 berzina kemudian menikahi wanita yg dizinahinya dalam keaadaan hamil 3 bulan dan kemudian mereka memiliki anak perempuan. pertanyaan saya : saat menikah nanti anak perempuan tersebut nasabnya apakah bisa ikut bapaknya maksudnya apakah bisa binti ayahnya? terima kasih penjelasannya

  16. Herizal Harmen says:

    Sdr Amir : Silahkan .. Semoga bermanfaat

  17. Herizal Harmen says:

    Sdr Wira Yth :
    Jika sang isteri melahirkan anaknya kurang dari 6 bulan maka anak tersebut tdk bisa di nasabkan kpd bapak biologisnya…

  18. anji says:

    mas, pertanyaan saya apakah wanita yang hamil diluar nikah namun laki-laki yang menghamili itu bertanggung jawab atas perbuatannya, dan ternyata anak yang lahir itu adalah perempuan, apakah laki-laki tersebut harus menikahi anak perempuannya, agar kelak dapat menjadi wali nikah saat anak perempuan itu ingin menikah dengan seorang pria idamannya

  19. tri rahayu says:

    Assallamualaikum…
    sy mau tanya…,bpk kandung sy sudah meninggal,saudara laki2 bpk sy jg sudah meninggal,kakek jg sudah meninggal.di urut2an yg sy baca sepu2 laki2 dr bpk bs jd,pdhal sepu2 bs menikah dgn qt.yg jadi pertanyaan siapa yg berhak jadi wali sy?????
    terima ksh….

  20. Fatah says:

    Assalamualaikum mas Herizal Harmen,
    dulu saya zina dengan pacar saya, lalu hamil dan kami menikah, 6 bulan lebih kemudian anak kami lahir (laki-laki)
    yang mau saya tanyakan:
    1. Waktu menikah nanti bisakan nasadnya kepada saya?
    2. Bagaimana dengan hukum warisnya?
    3. Waktu saya zina, nasab saya dengan anak terputus, dan tersambung lagi saat menikah sebagaimana dijelaskan di http://piqpa.blogspot.com/2012/05/status-anak-di-luar-nikah-menurut-hukum.html, apakah benar seperti itu?
    Mohon penjelasannya, terimakasih.

  21. Herizal Harmen says:

    Sdr Tri Rahayu :
    ” Kalau Wali Nasabnya sdh tdk ada lagi,, sementara walinya itu mau menikah dengan perempuan tersebut maka yg berhak menjadi walinya adalah wali hakim (Ka.KUA Kec)

  22. Herizal Harmen says:

    Sdr Fatah :
    1. Yang berhak menjadi walinya adalah wali hakim (Ka. KUA Kec)karena ia anak yg lahir di luar nikah kalau isteri tsb hamil baru 4 bln misalnya (maka ia bpk Biologis) setelah itu baru aqad nkh maka ia menjadi (Bpk Yuridis/ sah secara Hukum)
    2. Dalam hal kewarisan dia tdk mendapat warisan dari ayah biologisnya. hanya blh mendapatkan wasiat dari ayh tsb dan ia berhak mndapatkan warisan dari ibunya dan keluarga Ibunya
    3. memang benar maksudnya adalah : ” perbuatan zinanya ttp di hukum zina dan setelah aqad nikah baru sah hubungannya mnurut syar’i” trims

    • andri says:

      assalammualaikum pa herizal
      saya menikah dengan istri saya bulan agustus 2010…
      ketika saya menikahi istri saya,,ia tengah hamil 5 bulan…..hasil dari kesalahan kami berdua..
      lalu anak tersebut lahir bulan november 2010….perempuan….

      saya ingin bertanya,,apakah saya bisa menjadi wali nikahnya kelak ketika ia menikah???

      dan jika tidak bisa,,apa yang harus saya lakukan agar nasabnya bisa terhubung dengan saya……

      jujur,,saya dan istri saya menyesali perbuatan kami….
      kasian dengan anak kami,,jika ia tidak bisa memakai binti dari nama saya…..tolong penjelasannya secara detail dan dengan solusi yg terbaik….terima kasih

      wassalammualaikum

      • andri says:

        detailnya kami menikah tanggl 1 agustus 2010….anak kami lahir tanggl 14 november 2010….perempuan

  23. Herizal Harmen says:

    sdri Anji Yth.
    kalau yg berhak menjadi walinya adalah wali hakim (Ka. KUA Kec)

  24. quraish says:

    Ass…saya mau tanya pak…apabila serog laki-laki msh terikat pernikahan dg seorg wanita trus dia menikah siri dg wanita lain sampai memiliki seorang anak, anak tersebut termasuk jenis anak apa? Apakah pernikahan mereka sah?Apakah anak tersebut dapat memiliki akte kelahiran? kalau iya, apakah tercantum nama ayah dan ibunya?

  25. lubis says:

    Apa hukumnya bagi laki-laki menikahi perempuan yang terlahir diluar nikah?
    Saya tidak direstui orang tua untuk menikahi perempuan pilihan saya hanya karena satu alasan. Orang tua tidak restu karena status perempuan pilihan saya tersebut terlahir diluar nikah, hanya karena alasan itu saja.
    Bagaiman seharusnya sikap saya sesuai syariat islam menyikapi penolakan orang tua saya yang tidak merestui perempuan pilihan saya tersebut?

    Saya lajang yang sudah cenderung jatuh hukum wajib bagi saya utk menikah sesegera mungkin.

  26. abbas says:

    mohon d ikhlsi sy mau ngopi pak biar ilmunya bermanfaat

  27. Herizal Harmen says:

    Sdr Quraish Yth:
    Kasus nikah siri menurut hukum Islam (Munakahat) sah sepanjang terpenuhi 5 rukun nikah : 1. cln suami 2. cln isteri 3. wali 4. dua org saksi 5. ijab qabul.
    akan tetapi utk tertibnya pencatatan nikah, suami yg akan berpoligami harus mendapat izin Pengadilan Agama atas dasar persetujuan isteri pertama.
    jika anaknya lahir nnti bisa dicantumkan nama ayah/ibunya di akte klahirannya. trims

  28. Herizal Harmen says:

    Sdr Lubis Yth :
    Jika anda sudah berumur lebih dari 21 Tahun tidak perlu izin orang tua secara tertulis, orang tua anda tdk punya kewenangan melarang pernikahan tersebut,
    kecuali jika calon isteri sdr adalah non muslim (tidak sekufu’).mudah2an setelah dilangsungkannya aqad nikah org tua sdr Lubis perlahan lahan bisa memberi restu. amin

  29. Herizal Harmen says:

    Sdr Abbas Yth :
    Silahkan,,,, semoga bermanfaat

  30. Iru says:

    Assalammualaikum Bapak,

    Ibu & ayah saya menikah secara resmi setelah Ibu hamil 2 minggu. Sebagai anak perempuan yang akan menikah, apakah ayah saya dapat menjadi Wali pada pernikahan saya nanti? Mohon penjelasan Bapak lebih lanjut terkait hal ini. Terima kasih.

  31. Herizal Harmen says:

    Dalam Pasal 42 Bab IX UU Nomor 1 Tahun 1974 dijelaskan bahwa anak yang sah adalah salah satunya:
    Anak yang dilahirkan oleh wanita didalam ikatan perkawinan dengan tenggang waktu minimal 6 (enam) bulan antara peristiwa pernikahan dengan melahirkan bayi.
    jika kurang 6 bulan bayi tersebut sdh lahir maka tdk bisa dinasabkan pd ayah biologisnya dan yg mnjadi wali nikahnya adalah wali hakim (Ka. KUA). slm

  32. Fatimah says:

    Assalammualaikum wr.wb

    Bapak Herizal dengan adanya Pasal 42 Bab IX UU Nomor 1 Tahun 1974 apakah boleh disimpulkan bahwa anak perempuan yang terlahir diluar nikah ( minimal 6 bulan antara peristiwa pernikahan Ayah biologis dan Ibu kandung ) sah di walikan kepada Ayah biologis tersebut???

    Mohon bantuannya Pak dan terimakasih banyak.

    Wassalam.

  33. Herizal Harmen says:

    betul… karena usia minimal kehamilan adalah 177 hari atau 6 bulan.
    jika demikian boleh ayah nya menjadi wali nikah anak tersebut. slm

  34. Herizal Harmen says:

    sdri fatimah :
    Lihat Al QUR’AN Surat Al Ahqaf ayat : 15

  35. Fatimah says:

    Terimakasih banyak Pak.
    Artikelnya sangat bermanfaat.

    Semoga Alloh SWT memberkati kita semua.
    Aamiin

  36. Nova says:

    Saya nova, mohon pendapatnya Pak? Sebelumnya saya beragama kristen, dan karena pergaulan saya hamil dengan laki-laki islam, sampai melahirkan seorang anak-anak laki-laki saya belum dinikahi oleh laki-laki tsb karena berbeda agama. Namun waktu anak saya lahir sempat di azanin oleh bapaknya. setelah anak saya lahir dan berumur 2 bulan, saya baru menikah dengan laki-laki tsb, karena saya sudah diislamkan.
    Baru 1 bulan menikah saya meninggalkan suami saya dan kembali ke rumah orang tua saya dengan membawa anak saya, namun anak saya belum mendapatkan akte kelahiran. Dan saya dengar suami saya mau menceraikan saya.
    Yang mau saya tanyakan bagaimana stasus anak saya di mata islam?
    Bagaimana dengan anak saya bisa mendapatkan akte kelahirannya? apakah bisa nama bapaknya tercantum dalam akte tsb.
    Saya mualaf, namun sampai saat ini saya tidak pernah melakukan solat, karena semua keluarga saya kristen, tp saya pun tidak pernah ke gereja.
    Apakah anak saya sudah islam karena sudah diazanin?
    Apa anak saya termasuk ahli waris dari bapaknya?
    Apakah bapaknya wajib menafkahi anak saya?
    Mohon pendapat dan masukannya. terima kasih.

  37. Herizal harmen says:

    Sdri Nova >>>>
    Memperhatikan kasus yg saudari alami anak yg saudari lahirkan sebenarnya dalam keadaan suci kemudiaan org tuanya lah yg menjadikannya nasrani, yahudi atau majusi, dengan di azankan bearti dia sdh Muslim dan besarnya nnti di lanjutkan dengan mngucapkan 2 kalimat syahadat, selanjutnya jika dilihat dari proses ia lahir dia termasuk anak di luar nikah yg sah, maka ia hanya di nasabkan /mewarisi kepada ibunya dan keluarga ibunya saja. jika ia wanita dan akan menikah yg mnjadi walinya adalah wali hakim ( Ka. KUA) setempat.
    Mengenai nafkah tetap mnjadi kewajiban ayah biologisnya sampai ia mandiri (sdh menikah), meskipun sdri Nova sdh bercerai dgn suaminya.
    saya sarankan sdri nova untuk mnjalankan kwajiban selaku muslim krn sdh mu’allaf (mengucapkan 2 kalimat syahadat) dan kembali kpd suaminya.
    semoga bermanfaat

  38. Herizal harmen says:

    sdri fatimah,,,,
    sama-sama semoga bermanfaat

  39. Aris says:

    Assalamu’alaikum

    Mas Herizal,teman saya bertanya kepada saya, dia punya keponakan perempuan yang akan menikah dan ditelusuri dahulunya orang tuanya menikah akibat ‘kecelakaan’. Pertanyaannya adalah:
    1. Teman saya tahu kalau abang iparnya tidak bisa menjadi wali nikah untuk anak perempuannya yang pertama. Namun berlaku juga kah sebagai wali nikah untuk anak perempuannya yang kedua.
    2. Kemudian status hak waris untuk anak petama dan keduanya bagaimana?

    Mohon penjelasannya. Syukron

  40. Herizal Harmen says:

    jika anak yg pertama tersebut lahir lebih dari 6 bulan dari usia perkawinan maka bapak nya berhak menjadi wali nikah demikian pula anak tersebut berhak mendapatkan hak waris dari bpk nya.
    anak yg kedua sdh jelas lahir dari ikatan pernikahan yang sah dan bpk nya berhak mnjadi wali nya. salam

  41. asih hidayat says:

    Assalamu’aliakum
    Pak Herizal, ada saudara saya (laki-laki) umur 17 tahun telah menghamili teman sekolahnya (usianya 17thn jg). Keluarga perempuan memaksa kel laki-laki untuk segera menikahkan mereka secara resmi. dengan pertimbangan keselamatan anaknya pihak laki-laki akhirnya menyetujui permintaan kel perempuan tsb.
    perkawinan dilangsungkan di kel perempuan dengan dihadiri petugas KUA tanpa melalui prosedur yang seharusnya spt lapor ke rt ntuk numpang nikah ato melaporkan ke kelurahan.
    pertanyaan sy, bgmn hukum perkawinan mereka secara hukum agama maupun negara? dan dapatkah keluarga pihak Laki-laki untuk membatalkan perkawinan tersebut?
    Atas jawaban Bpk kami ucapkan terima kasih
    Wassalamu’alaikum

  42. Herizal Harmen says:

    UU No 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan
    Pasal 7
    (1)Perkawinan hanya diizinkan bila pihak pria mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak wanita sudah mencapai usia 16 (enam belas) tahun.
    (2) Dalam hal penyimpangan dalam ayat (1) pasal ini dapat minta dispensasi kepada Pengadilan atau pejabat lain yang diminta oleh kedua orang tua pihak pria atau pihak wanita.
    Boleh di batalkan berdasarkan :
    Pasal 22
    Perkawinan dapat dibatalkan apabila para pihak tidak memenuhi syarat-syarat untuk melangsungkan perkawinan.
    Pasal 23
    Yang dapat mengajukan Pembatalan perkawinan yaitu:
    a. Para keluarga dalam garis keturunan lurus ke atas dari suami atau isteri.
    b. Suami atau isteri.
    c. Pejabat yang berwenang hanya selama perkawinan belum diputuskan.
    d. Pejabat yang ditunjuk tersebut ayat (2) Pasal 16 Undang-undang ini dan setiap orang mempunyai kepentingan hukum secara langsung terhadap perkawinan tersebut, tetapi hanya setelah perkawinan itu putus.

  43. maya says:

    Assalamualaikum pa hefrizal
    saya mau tanya ini kasus temen saya cukup rumit, dia punya kaka pertama laki2 hasil dari hub perzinaan. setelah bapaknya meninggal dia otomatis menjadi wali nikah untuk adik2nya yg perempuan termasuk temen saya.pertanyaan saya bagaimana keabsahan pernikahan temen saya dan adik2nya yg diwalikan olek kakaknya tersebut?adik2nya ini baru mengetahuinya baru2 ini pak.Apakah temen saya ini harus melakukan nikah ulang dengan wali hakim??apakah temen saya ini tidak boleh berhubungan badan dengan suaminya sebelum dinikahkan kembali dengan wali hakim?
    terima kasih atas jawabannya pa

  44. abdulpts says:

    Assalamu’alaikum..
    Saya hanya Ingin Bertanya, Apakah Anak yang lahir di luar nikah di sebut anak Haram ?
    Apakah Syariat Islam Ada Mengatakan Itu, Karna saya mendengar para ustads ceramah, Anak yang baru lahir di luar nikah di sebut nya Anak Haram, Sedang Haram, Allah SWT melarang Umat manusia mendekati nya, Kenapa Anak yang baru Lahir dan besar karna hubungan di luar nikah di sebut Anak Haram..
    Padahal Manusia baru lahir dalam keadaan Suci..
    Saya hanya ingin lndasan, hadist atau ayat alqur’an yang menyatakan anak yang baru lahir tersebut anak Haram..
    Sekian terima kasih pak, Saya tunggu konfirmnasi dari Bapak

  45. Ini adalah kesaksian saya tentang kebaikan kerja yang seorang pria yang membantu saya…My name is maris Jane chris, dan aku dasar di Swedia.Hidupku adalah kembali! Setelah 11 tahun pernikahan, suami saya meninggalkan saya dan meninggalkan saya dengan tiga anak kami. Aku merasa seperti hidup saya adalah untuk mengakhiri, dan berantakan. Berkat kastor mantra disebut papa ferido yang saya bertemu online. Pada suatu hari yang setia, seperti yang saya browsing melalui internet, saya sedang mencari kastor baik mantra yang dapat memecahkan masalah saya. Aku datang di serangkaian kesaksian tentang kastor mantra tertentu ini. Beberapa orang bersaksi bahwa ia membawa mantan kekasih mereka kembali, beberapa bersaksi bahwa ia
    mengembalikan rahim, beberapa bersaksi bahwa ia dapat mengucapkan mantra untuk menghentikan perceraian dan seterusnya. Therewas satu tertentu kesaksian saya melihat, itu adalah tentang seorang wanita yang disebut kasih karunia, ia bersaksi tentang bagaimana papa ferido membawa kembali kekasihnya Ex kurang dari 72 jam dan jam
    akhir kesaksian dia menjatuhkan papa ferido alamat e-mail. Setelah membaca semua ini, saya memutuskan untuk memberikan papa mencoba. Saya menghubungi dia melalui email dan menjelaskan masalah saya kepadanya. Dalam hanya 3 hari, suami saya kembali ke saya. Kami memecahkan masalah kami, dan kami lebih bahagia daripada sebelumnya. Papa ferido benar-benar seorang pria yang berbakat dan berbakat dan saya akan tidak untuk menghentikan penerbitan kepadanya karena ia adalah seorang pria luar biasa…Jika Anda memiliki masalah dan Anda mencari nyata dan asli mantra kastor untuk memecahkan masalah itu untuk Anda. Coba ferido papa besar hari ini, dia mungkin menjadi jawaban untuk masalah Anda. Berikut adalah kontak:
    drspiritualferido25@Gmail.com Terima kasih besar Justus. Hubungi dia hal berikut:

    (1)Jika Anda ingin mantan Anda kembali.
    (2) jika Anda selalu memiliki mimpi buruk.
    (3)Anda ingin dipromosikan di kantor Anda.
    (4)Anda ingin perempuan/laki-laki untuk menjalankan setelah Anda.
    (5)Jika Anda ingin anak.
    (6)[Anda ingin menjadi kaya.
    (7)Anda ingin mengikat suami/istri Anda untuk menjadi milikmu selama-lamanya.
    (8)Jika Anda membutuhkan bantuan keuangan.
    (9)Herbal perawatan
    10) membantu membawa orang keluar dari penjara
    (11)Pernikahan Spells
    (12)Keajaiban mantra
    (13)Keindahan Spells
    (14)NUBUATAN PESONA
    (15)Daya tarik mantra
    (16)Mata kejahatan Spells
    (17)Mencium mantra
    (18)Menghilangkan penyakit mantra
    (19)PEMILIHAN PEMENANG MANTRA
    (20)KEBERHASILAN DALAM UJIAN MANTRA
    (21) pesona untuk mendapatkan yang mencintaimu.
    (22)Mantra bisnis.
    Hubungi dia hari ini di:
    drspiritualferido25@Gmail.com,
    +2349038462789

  46. syaiful says:

    Assalamualaikum pak rizal mau tanya bagaimana penyelesaian perwalian anak hasil kawin hamil ,kira2 yang berhak menjadi wali pernikahan anak tersebut siapa? dan dasar dari KUA menetukan wali tersbut apa ?

  47. herizal harmen says:

    Sdr Syaiful @
    Yang berhak menjadi wali nikah anak hasil zina adalah wali hakim “Ka. KUA Kecamatan” krna dia tidak mempunyai wali nasab.
    Hal ini berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    أَيُّمَا امْرَأَةٍ نَكَحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ وَلِيِّهَا فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ … فَإِنِ اشْتَجَرُوا فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لاَ وَلِيَّ لَهُ

    “Siapa saja wanita yang menikah tanpa izin dari walinya maka pernikahannya batil…, dan jika para wali berselisih untuk menikahkannya maka sulthan adalah wali bagi seorang wanita yang tidak punya wali.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Abu ‘Awanah, Ibnu Hibban, Al-Hakim, Al-Albani dalam Al-Irwa` (no. 1840) dan guru besar kami Al-Wadi’i dalam Ash-Shahihul Musnad (2/493))

  48. herizal harmen says:

    Sdr Abdul@
    Islam hanya mengakui hubungan darah ( nasab ) seseorang melalui jalinan perkawinan yang sah. Ini bisa dipahami langsung dari salah satu tujuan pernikahan adalah untuk meneruskan keturunan. Artinya, ketika sesorang telah melangsungkan akad nikah, kemudian mereka bercampur ( melakukan hubungan suami isteri) dan memperoleh keturunan, maka anak yang dilahirkan tersebut adalah sah dan dinasabkan kepada si ayah.

    Namun sebaliknya, jika keturunan yang diperoleh di luar ikatan perkawinan, baik dilakukan dengan suka rela (perzinahan) atau paksaan (perkosa), maka dalam hal ini, anak yang dilahirkan dinasabkan pada si ibu yang melahirkannya, bukan pada si Ayah. Walaupun secara biologis diketahui bahwa anak tersebut terlahir dari benih sang ayah.

    Kondisi ini juga berlaku pada kasus hamil di luar nikah. Mayoritas ulama sepakat bahwa anak yang dilahirkan dari hasil hubungan di luar nikah tidak boleh dinasabkan pada ayahnya. Karena perbuatan tersebut tergolong zina. jd Islam tdk mengenal Istilah anak haram tp perbuatan kedua ibu bpknya lah yg haram.

    • herizal harmen says:

      Sdr Abdul@
      Islam tidak mengenal adanya dosa warisan. Setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah (suci). Kalaupun ia ditakdirkan lahir dari hasil zina kedua orang tuanya, namun dosa zina bukan pada si anak tapi pada kedua orang tuanya. Allah swt berfirman : “dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain”. (QS.az-Zumar: 7). Oleh karenanya, orang tua harus bertaubat nasuha. Sebab zina adalah satu dosa besar yang sangat dimurkai oleh Allah swt

  49. herizal harmen says:

    Sdri Maya Yth.@
    Coba tanyakan dulu sama teman sdri Maya apakah kakaknya lahir dulu dlm kurun waktu 6 bln setelah aqad nikah ibu dan bapaknya, kalau ia maka kakanya tersebut adalah sah menjadi wali nkh nya, tp jika kurang dari 6 bulan maka kakaknya tsb tdk di nasabkan pda bapaknya melainkan pd ibunya saja, dan ia tdk pula berhak menjadi wali nikah adik2nya, jd utk menghalalkan nkh tsb harus dilakukan nkh ulang dgn wali nikah “Wali HakiM= Ka. KUA Kec” Setempat. akan tetapi hub. mereka yang lalu tdk lah mnjadi dosa karena ia baru tahu sekarang. wssalam

  50. ariwibowo says:

    ass.. sya ingin bertnya dg segala kekurangan dan dosa2 saya..
    begini pak saya pernah berpacaran dengan seorang istri yg waktu itu cerai secara hukum agama tp blom syah secra pengadilan..krna lntaran suaminya berselingkuh setelah 2 tahun tnpa sepengehtauannya..
    nah ketika sya pcran dg nya dia hamil, dan wktu itu suaminya masih berharap besar untuk bisa ruju dgnya, akhirnya sy dan pacar sya memutuskan dalam masa kehamilan satu bulan, kpacar saya rujuk dg suaminya…
    pertnyaan saya..
    1. bagaimana hukumnya tentang anak itu bagi sy sedangkan dia ktika itu bru hamil 1 bulan dan bagaimana jika ia menikah??
    2. apakah slah jika selamak dalam masa2 kehamilan, setelah ia kembali dg suaminya, sya tetap berkomunikasi denganya,lantaran pacar sya mrasa tertekan dg suami yg sudah tidak dicintainya lg, dan saya mlakukan itu juga demi untuk menjaga kesehatan janin..
    3. jika mereka bercerai kembali, dan saya menikahinya apakah itu syah scara hukum agama..
    4. kalau sy menikahinya setelah perceraian mereka, bgaimana menurut hukum untuk sya dengan anak tersebut..
    terimaksih.. wss

  51. teralis says:

    Terima kasih banyak atas informasinya pak.

  52. lela aja says:

    assalammualaikum pak rizal.
    saya mau tanya pak rizal.
    ada teman saya,dia pacaran sm janda,dan akhir nya wanita tersebut hamil.dan akhir nya mereka berdua nikah.
    sehabis menikah,pria tersebut pergi meninggalkan wanita tersebut.
    yang saya mau tanyakan pak :
    1.apakah pernikahan mereka sah atau tidak.
    2.siapakah yg bertanggung jawab soal anak.
    3.apakah salah pria tersebut pergi,sesudah menikahi wanita itu.
    4.pria tersebut smpai sekarang tidak mau melihat anak.apakah salah pria tersebut tidak mau melihat anak nya.

    mohon nasehat nya pak rizal

  53. Farhan says:

    Assalamu’alaikum Wr.Wb. Mohon bantuan Ustadz (Saya sdh cukup memahami penjelasan2 Ustadz sebelumnya). Anak saya (Wanita) melahirkan anak laki-laki diluar pernikahan, hingga saat ini tidak menikah dengan Pria yg menghamilinya. Hingga saat ini anak tersebut (sdh berusia 2,5 tahun) berada dalam asuhan saya dan keluarga. Saya baru merencanakan data catatan sipil anak tsb sebagai anak saya (bukan cucu), demikian juga anak2 sy lainnya menganggap sbg adiknya (juga ibu biologisnya). Pertanyaan saya: 1. apakah rencana sy ini “dibenarkan” menurut syariat agama Islam dan ketentuan negara? kalau tidak dibenarkan apa sebaiknya yg harus saya lakukan? 2. Kalaupun ibu biologisnya saya nikahkan dengan ayah biologisnya, saya berpikir tidak berpengaruh/merubah kondisi apapun, sebaiknya apa yg harus saya lakukan? (perlu diketahui sampai saat ini pihak keluarga Pria tidak pernah melakukan komunikasi apapun kpd kami, apa pula yg harus sy lakukan) 3. Diperkenankankah saya menutupi masalah ini sampai kapanpun menurut Islam, kalau tidak diperkenankan, sampai kapan dan usia berapa saya wajib menyampaikan hal ini kepada “anak” atau cucu saya. 4. Saya ingin membekali dengan ilmu agama yang kuat kepadanya agar dirinya bisa tegar memahami kondisi yg sebetulnya jika kelak dia mengetahuinya.5. Apa lagi saran-saran Ustadz terhadap masalah yang sedang kami hadapi ini. Semoga Allah memberikah keberkahan bagi kita semua, amin.

  54. assalamu’alaikum wr.wb
    saya mau tanya pak,apa hukumnya seorang laki-laki yang akan menikahi seorang perempuan namun perempuan itu hasil anak diluar nikah?
    apa hukumnya jika bapak(genetiknya)melarang si anak perempuan itu menikah,tetapi menuntut agar si anak perempuan untuk menjadi orang yang kaya dahulu baru boleh menikah?

  55. herizal harmen says:

    Sdr. Ariwibowo Yth:
    sahnya suatu prceraian menurut fiqh apabila suami nya langsung mengucapkan kata thalaq atau semisal itu dgn niat berpisah dgn isterinya setelah itu berlaku iddah (masa tunggu) untuk ruju’ (kembali) jika ia dalam keadaan haid iddahnya 3 X suci, jika ia dlm keadaan hamil iddahnya smpai ia melahirkan.jika sdr menikah dgn perempuan tsb telah memenuhi dan telah lepas iddah yg dimaksudkan diatas, kmudian baru sah nikahnya jika tlh memenuhi pula 5 rukun nkh 1. suami 2. isteri 3. wali 4. 2 orang saksi yg adil 5. ijab qabul.
    jika terpnuhi 5 rukun tsb. maka sah lah nikahnya, maka tidak dibolehkan wanita tsb kembali pd suaminya lagi setelah mnikah dgn sdr Ari.lalu anak yg sdr maksud karena sdh demikian halnya setelah lahir nanti maka diperlukan tes DNA yg bisa menentukan anak tsb adalah anak sah siapa.. setelah semuanya jelas, maka akan nampak di mana jalan yg seharusnya akan sdr tempuh. wassalam

  56. herizal harmen says:

    Sdri Lela Yth :
    Sahnya Nikah jika dilangsungkan di depan Pegawai pencatat nikah dgn memenuhi 5 rukun Nikah.adapun syarat jika janda harus sdh lewat masa iddahnya dgn suaminya yg dulu.
    jika setelah itu ia mnikah dgn laki-laki lain dan ia di tinggalkan lagi, maka yang bertanggung jawab terhadap anak nya tetap kedua org tua anak tsb (ayah dan ibunya) jika tdk melaksanakan kewajiban kita terhadap anak ya jelas ini suatu kesalahan dan kelak akan di mintai pertanggung jawaban oleh Allah SWT.

  57. herizal harmen says:

    Pak Farhan Yth:
    saran saya atas kisah yg bapak ceritakan, kalau bapak sebagai walinya setuju, komunikasikan dgn kluarga pria agar tujuannya menikahkan anak bapak tsb dgn pria yang mengahamilinya sebab, ia yang bertanggung jawab utk membesarkan, mendidik dan memberikan perlindungan atas anak biologisnya,,, walaupun secara hukum ia bukan ayah yuridis. tapi hal ini akan berdmpak positif utk kelangsungan fhsikis cucu bpk tersebut, sbb catatan sipil tdk punya kewenangan utk merubah status seorang cucu menjadi seorang anak walaupun ibunya setuju dan anak-anak bapak lainnya jg setuju, ini akan mengurangi beban mental bpk untuk menjelaskan kpd cucu bpk tsb siapa ayah biologisnya,,,, wassalam

Leave a Reply

Powered by WordPress | Designed by: Premium WordPress Themes. | Find the best Premium WordPress Themes, Checking and Free WordPress 4 Themes
Kementerian Agama Professional...! - Kementerian Agama Amanah...!