TALE HAJI KERINCI Warisan Budaya Islam di Kerinci


Judul Artikel: TALE HAJI KERINCI Warisan Budaya Islam di Kerinci
Ditulis oleh: Hamdi, SE.AK, M.PdI (Perencana Urusan Umum Kankemenag kab.Kerinci)

taleDalam masyarakat Kerinci, tale keberangkatan haji menjadi perwujudan kebersamaan yang ditunjukkan oleh warga desa ketika salah satu warganya akan berangkat menjalankan Ibadah Haji ke Mekah. Tale keberangkatan haji tidak akan ada
jikalah masyarakat Kerinci tidak memeluk Agama Islam. Tale dilakukan pada siang dan malam hari, dalam tale keberangkatan haji ungkapan perasaan terwakili, dan niat tersampaikan dengan menggunakan bahasa yang santun. Tale menjadi identitas Kerinci di Provinsi Jambi, hal ini di sebabkan oleh kekhasan tradisi yang dipertunjukkan
oleh masyarakat menjelang pemberangkatan jamaah haji. Selain itu tradisi tale hanya dimiliki oleh Kabupaten Kerinci

Tale kerangkatan haji dalam masyarakat Kerinci berfungsi ritual, peneguhan integrasi sosial, dan berfungsi hiburan. Petale mewarisi tradisi ini tanpa menghilangkan kesakralan dari arti penting keberangkatan haji. Petale dan masyarakat mengisi hari-hari menjelang keberangkatan dengan bertale bersama sebagai wujud hubungan
sosial. Pertunjukan tale dilakukan dengan dua cara, duduk dan berdiri secara berhadapan. Dalam posisi duduk, petale menuturkan tale dengan menggoyangkan tubuh mereka ke kiri dan ke kanan, ke depan dan ke belakang. Dalam posisi berdiri, kaki digerakkan perlahan maju ke depan, dan jika jumlah petale itu banyak, maka mereka membentuk syaf, lalu kaki digerakkan ke depan, dan ke belakang secara pelan, gerakan itu mengikuti irama tale.

Dalam hal pertunjukan, tidak semua warga masyarakat bisa melakukannya, hal itu sangat tergantung kepada kemampuan petale dalam memberi jawaban atas konteks tale yang disampaikan. Pertunjukan ini diakhiri dengan saling berangkulan, dan tidak jarang mereka meneteskan air mata sebagai wujud kesedihan karena akan ditinggalkan dan meninggalkan. Pertunjukan tale membutuhkan keahlian, yaitu keahlian memberi jawaban atas konteks tale yang disampaikan oleh petale lain.

Selama pertunjukan, petale yang merasa kelelahan bisa duduk sambil minum dan menonton. Menurut Zakaria salah seorang tokoh masyarakat KERINCI beberapa hari menjelang keberangkatan haji dilakukan pertunjukan tale. Pertunjukan tale dilakukan di rumah orang tua jamaah, rumah sanak keluarga, dan menjelang keberangkatan jamaah. Berkumpulnya keluarga, warga desa pada waktu malam ataupun siang di rumah jamaah haji, dan keluarga jamah yang di tinggalkan memberi kesan kebersamaan antara warga desa. Selain itu, sebelum keberangakatan haji, Depati ninik mamak (tetua kampung) akan memberikan nasehat dan berjanji akan menjaga anak dan kemenakan.

Muatan tale dapat dipengaruhi oleh kondisi alam yang ada di daerah mereka, desa yang penghasilan masyarakatnya dari bertani sawah, kebun, cenderung menggunakan idiom-idiom yang berkenaan dengan hasil perkebunan mereka. Berkenaan
dengan dialek, bahasa Kerinci memiliki 200 lebih dialek, dengan jumlah dialek ini, maka sangat memungkinkan petale akan mengungkapkan muatan tale dengan medium dialek mereka masing-masing, walaupun demikian, perbedaan dialek tidak
mengurangi pemahaman masing-masing petale. Dikutip Dari Tesis NUKMAN mahasiswa Universitas Indonesia asal Kerinci.

Penyampaian maksud (perno neik jei), oleh teganai rumah atau orang yang dituakan dalam keluarga jamaah haji kepada ninik mamak, intinya adalah memberitahukan kepada masyarakat bahwa ada salah satu dari anggota keluarga mereka yang akan menjalankan ibadah haji.

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply


− 5 = 1

Powered by WordPress | Designed by: Premium WordPress Themes. | Find the best Premium WordPress Themes, Checking and Free WordPress 4 Themes
Kementerian Agama Professional...! - Kementerian Agama Amanah...!